Konsentrasi adalah hal yang penting dimiliki dalam kehidupan sehari-hari. Konsentrasi dapat menjadi penentu yang signifikan akan kualitas pekerjaan, produktivitas, proses belajar, keterampilan komunikasi, regulasi dan manajemen diri, hingga banyak hal lainnya. Kesulitan berkonsentrasi akan mengganggu keberlangsungan aktivitas sehari-hari, terutama apabila kesulitan tersebut terjadi secara terus-menerus.
Daya konsentrasi yang rendah sudah menjadi hal yang lumrah di kehidupan modern ini. Banyaknya eksposur terhadap teknologi dan informasi yang cepat, hambatan perkembangan kognitif, dan pola tidur yang kurang baik merupakan faktor-faktor penyumbang terhadap menurunnya daya konsentrasi di kalangan generasi muda. Daya konsentrasi yang rendah juga menjadi salah satu gejala dari ADHD atau Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder. ADHD adalah gangguan perkembangan yang berakar dari kelainan di otak, gangguan ini mempengaruhi berbagai fungsi sehari-hari terkait daya konsentrasi, pengendalian diri dari dorongan-dorongan impulsif, hingga penyelesaian masalah.
Dalam DSM-5, daya konsentrasi rendah (inattention) sebagai gejala ADHD memiliki sekumpulan indikator:
- Often fails to give close attention to details or makes careless mistakes in schoolwork, at work, or during other activities (e.g., overlooks or misses details, work is inaccurate).
- Often has difficulty sustaining attention in tasks or play activities (e.g., has difficulty remaining focused during lectures, conversations, or lengthy reading).
- Often does not seem to listen when spoken to directly (e.g., mind seems elsewhere, even in the absence of any obvious distraction).
- Often does not follow through on instructions and fails to finish schoolwork, chores, or duties in the workplace (e.g., starts tasks but quickly loses focus and is easily sidetracked).
- Often has difficulty organizing tasks and activities (e.g., difficulty managing sequential tasks; difficulty keeping materials and belongings in order; messy, disorganized work; has poor time management; fails to meet deadlines).
- Often avoids, dislikes, or is reluctant to engage in tasks that require sustained mental effort (e.g., schoolwork or homework; for older adolescents and adults, preparing reports, completing forms, reviewing lengthy papers).
- Often loses things necessary for tasks or activities (e.g., school materials, pencils, books, tools, wallets, keys, paperwork, eyeglasses, mobile telephones).
- Is often easily distracted by extraneous stimuli (for older adolescents and adults, may include unrelated thoughts).
- Is often forgetful in daily activities (e.g., doing chores, running errands; for older adolescents and adults, returning calls, paying bills, keeping appointments).
Masalah daya konsentrasi dapat dikurangi melalui kegiatan-kegiatan sederhana seperti menciptakan lingkungan dan aktivitas yang terstruktur serta minim distraksi, menggunakan alat-alat bantu dalam proses pembelajaran, mengoptimalisasikan penjadwalan dan pengingat ataupun penghitung waktu, menjaga pola hidup yang sehat, dan lain-lain. Pendekatan menarik yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan daya konsentrasi adalah penggunaan Virtual Reality (VR) sebagai intervensi.
Virtual Reality adalah suatu sarana yang mencakup simulasi lingkungan tiga dimensi, di mana pemain dapat berinteraksi dengan lingkungan yang ada sehingga bisa mendapatkan sensasi seakan benar-benar hadir di lingkungan tersebut. VR meliputi fitur-fitur yang merangsang fungsi sensori dan konsentrasi karena membutuhkan partisipasi dan perhatian penuh pemainnya. Hal ini menjadikan VR sebagai media yang bisa digunakan sebagai bakal intervensi daya konsentrasi sendiri.

Gambar 1. Alat Virtual Reality
Sebelumnya, Anguera dkk. (2023) merancang intervensi inattention guna meningkatkan kemampuan konsentrasi pada anak melalui video game dengan unsur fisik dan kognitif yang terintegrasi. Intervensi ini diberikan kepada anak sebagai kegiatan sepulang sekolah. Selain itu juga Schena dkk. (2023) membuat intervensi berbasis VR untuk inattention terkhusus sebagai salah satu gejala ADHD. Kedua program intervensi yang dikembangkan ini memiliki dampak yang positif terhadap daya konsentrasi partisipan.
Mengikuti jejak perkembangan tersebut, APEX menawarkan serangkaian game interaktif yang penyusunannya didasarkan pada indikator-indikator inattention. Apex dalam bahasa Inggris berarti puncak atau titik tertinggi dari suatu bangun. APEX disusun untuk membantu anak meningkatkan daya konsentrasi melalui permainan interaktif menggunakan VR.
Gambar 2. Preview APEX: Attention Development Exercise
Game yang ditawarkan adalah game menembak target yang menuntut pemain untuk memusatkan perhatian karena diharuskan untuk menembak sejumlah target dalam kurun waktu tertentu. Game yang disusun ditujukan untuk melatih kemampuan dan keterampilan kognitif dan behavioral tertentu dengan menggunakan VR sebagai media yang menarik dan futuristik.
Referensi:
Anguera, J. A., Rowe, M., Volponi, J., Elkurdi, M., Jurigova, B. G., Simon, A. J., Anguera-Singla, R., Gallen, C. L., Gazzaley, A., & Marco, E. J. (2023). Enhancing attention in children using an integrated cognitive-physical videogame: A pilot study. Npj Digital Medicine, 6(1). https://doi.org/10.1038/s41746-023-00812-z
Schena, A., Garotti, R., D’Alise, D., Giugliano, S., Polizzi, M., Trabucco, V., Riccio, M. P., & Bravaccio, C. (2023). IAmHero: Preliminary Findings of an Experimental Study to Evaluate the Statistical Significance of an Intervention for ADHD Conducted through the Use of Serious Games in Virtual Reality. International Journal of Environmental Research and Public Health, 20(4), 3414. https://doi.org/10.3390/ijerph20043414